Senin, 04 November 2013

Fenomena Duduk 'Ngangkang' di Lhokseumawe

Aturan "Larangan duduk ngangkang  di Aceh" pertama kali dipelopori oleh kota Lhokseumawe,kota dimana saat ini aku berpijak. Aturan ini sudah diberlakukan dari akhir tahun 2012 lalu. Apa sebenarnya tujuan dari aturan ini? Perlukah aturan ini dibuat? berjalan dengan semestinyakah? efektifkah?

Sebelum aku berpendapat secara pribadi,baiknya kita intip dulu isi keseluruhan dari aturan tersebut:


1. Perempuan dewasa yang dibonceng dengan sepeda motor oleh laki-laki muhrim, bukan muhrim, suami, maupun sesama perempuan, agar tidak duduk secara mengangkang (duek phang), kecuali dalam kondisi terpaksa atau darurat.

2. Di atas kendaraan baik sepeda motor, mobil, dan/atau kendaraan lainnya, dilarang bersikap tidak sopan seperti berpelukan, berpegang-pegangan dan/atau cara-cara lain yang melanggar syariat Islam, budaya, dan adat istiadat masyarakat Aceh.

3. Bagi laki-laki maupun perempuan agar tidak melintasi
tempat-tempat umum dengan memakai busana yang tidak menutup aurat, busana ketat, dan hal-hal lain yang melanggar syariat Islam dan tata kesopanan dalam berpakaian.

4. Kepada seluruh keuchik, imum mukim, camat, pimpinan
instansi pemerintah atau lembaga swasta, agar dapat
menyampaikan seruan ini kepada seluruh bawahannya serta kepada seluruh lapisan masyarakat.

Begitulah isi keseluruhan dari aturan "Larangan Duduk Mengangkang" di Lhokseumawe,Aceh.

Kenapa sampai ada aturan semacam itu disini? Menurut para petinggi Lhokseumawe,saat ini Aceh sedang krisis identitas. Adat istiadat Aceh mulai luntur dengan budaya-budaya luar yang mulai merusak citra keislaman Aceh. Para pemuda pemudi sudah tidak malu lagi berpelukan,berdua-duaan bahkan berciuman. Guna mengembalikan marwah dan menjalankan  syariat islam  secara kaaffah di Aceh, maka dibuatlah aturan seperti diatas tadi.

Baik,aku akan berpendapat secara netral mengenai kebijakan ini. Menurut pendapatku,kebijakan ini tidak sepenuhnya bisa mengembalikan apa yang diinginkan oleh para petinggi di Aceh. Bukan ini caranya. Mengembalikan marwah dan menjalankan syariat islam secara kaaffah bukan hanya terletak pada cara duduk di atas kendaraan. Menelaah aturan nomor 1 yang menurutku sangat kurang efektif bahkan mengada-ada. Apakah dengan tidak duduk mengangkang dapat dipastikan mereka yang bukan muhrim tidak bisa berpelukan dan/atau berciuman? Ah.. ini hanya pendapat pribadi saja. 

Masih banyak aturan berkendara nasional yang sepertinya belum diindahkan oleh masyarakat di kota ini. Contohnya,pada saat berkendara sepeda motor baik si pengemudi maupun yang di bonceng tidak memakai helm,lampu merah diterabas,kebut-kebutan di jalan raya,trek-trekan dan masih banyak lagi yang justru dampaknya merugikan orang banyak. Selain itu,warnet 24 jam,tempat karaoke yang membanjir dan warung remang-remang di waduk, itu semua harus ditiadakan kalau memang intinya membentuk masyarakat yang kaaffah secara islami.

Yang mau aku tegaskan dari hati bahwa,larangan duduk mengangkang jangan dibuat alasan dengan mengedepankan kata "syariat islam",karena dalam syariat tidak ada bahasan mengenai duduk mengangkang.  Yang benar adalah mengedepankan "adat istiadat" Aceh.

Tapi semua ini hanya pendapatku saja,pendapat yang keluar dari pengamatan melihat langsung kondisi di lapangan seperti apa.Pendapat dari seorang perantau yang baru 3 tahun tinggal di Lhokseumawe. Jadi bisa saja pendapatku keliru atau tidak valid. Lagipula aku tidak punya wewenang apa-apa,yang aku punya hanyalah hak berpendapat sebagai warga negara.

Tentunya pemerintah kota Lhokseumawe mempunyai maksud dan tujuan yang baik dengan dibuatnya aturan diatas yang langsung diberlakukan untuk  seluruh kota di propinsi Aceh. Semoga kedepannya Aceh semakin baik dan mempunyai identitas keislaman yang kuat :)

62 komentar:

  1. aku sih oke-oke aja kalau tujuannya baik. Cuma dari segi keselamatan saat berkendara, justru yang ngangkang lebih safety daripada miring.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mas.. terimakasih pendapatnya :)

      Hapus
  2. kalo ngomongin hukum atau aturan di Indonesia memang sejauh ini tak bisa dianggap telah berjalan sesuai rencana, selalu ada saja yang gk sreg :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang salah yang buat peraturan atau yang melaksanakan aturan ya pak? :D

      Hapus
    2. sebenarnya gk ada yang salah, cuman karena ketidaktegasan pihak tertentu, maka sangat jelas terlihat salahnya :D

      Hapus
    3. makanya harus tegas ya pak,.jangan sepotong-sepotong :D

      Hapus
  3. sebelum memberlakukan aturan, sebaiknya diberi contoh dulu. bagaimana rakyat mau nurut dengan aturan kalau yang bikin aturan sendiri banyak yang melanggar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju itu kang.. yang bikin aturan terkadang ga ngerasain kondisi di tekape seperti apa :)

      Hapus
  4. kalau menurut saya sih kan semuanya juga sebetulnya kembali pada pribadi masing2, jadi mungkin itulah yang harus dibina yaitu pribadi2nya. Seperti yang mbak bilang, dengan duduk tidak ngangkang belum tentu juga orang tersebut alim, dan yang ngangkang belum tentu juga dia badung.

    kalau hukumnya diterapkan tanpa membina pribadi2nya, mungkin akan sia2 dan hanya terasa menjadi sebuah kekangan...tapi kalau pribadi2nya dibina, Insya Allah keinginan mengembalikan Islam yang khaffah di aceh akan segera terwujud

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah mas,,seperti yang saya bilang di atas,bukan seperti itu caranya. masih banyak yang harus di benahi dari sekedar aturan duduk ngangkang. semoga mengertilah para yang buat aturan :)
      terimakasih masukannya mas :)

      Hapus
  5. Hehehe..Kalau di Jakarta malah kebalikan mbak kebanyakan malah seperti itu duduknya apalagi buat jarak jauh lebih nyaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pastinya mbak,,jarak dari satu tempat ke tempat lain di jakarta kan jauh di tambah macet dan kalo ada demo pasti memakan waktu lama,jadi ya sebaiknya duduk seperti aturan berkendara pada umumnya. Kalo lhokseumawe kota kecil,jadi jarak antar tempat dekat mbak :D

      Hapus
  6. Memang ada hal yang tidak dipikirkan secara komprehensif...perlu kematangan ilmu syariah dalam membuat aturan. Kalao ga ya jadinya sepotong2...dan tidak mengena ke substansi syariah itu sendiri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ditinjau dari sisi syariah juga keamanan dan kenyamanan dalam membuat peraturan itu lebih penting sepertinya ya maa.
      terimakasih pendapatnya :)

      Hapus
  7. sebenarnya untuk membuat aceh mempunyai jati diri kembali itu langkahnya dengan merangkul semua masyarakat aceh untuk sadar diri dulu. Jika warga sudah mempunyai kesadaran tinggi maka hal hal lain yang dianggap melanggar akan hilang dengan sendirinya. langkahnya bisa dengan menggelar kajian tiap minggu di musholla atau masjid masjid. hal ini yang sedang dilakukan oleh kabupaten tuban yang selalu menggelar kajian di masjid masjid tiap hari minggu.
    masalahnya persentase orang sadar dan tidak sadar aturan lebih banyak yang tidak sadar.
    membaca kenyataan di lapangan tentang lokseumawe yang banyak warung remangnya saya kira petinggi pemerintahannya tidak berbuat apa2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya kalau kajian-kajian sudah membludak disini mas. cuma ya itu tadi,yang belum sadar lebih banyak dari yang sudah sadar. begitulah mas kenyataan di lapangan,semoga saja kedepannya makin baik ya..

      Hapus
  8. saya menyaksikan liputan khusus tentang Fenomena Duduk Ngangkang ini di National Geographic Mbak Yuli...jadi secara umum, masyarakat di luar negeri sudah tahu tentang aturan yang berlaku di aceh ini. mereka juga jadi ngerti kalau syariat yang diterapkan termasuk dilarang berdua-duaan atau khalwat demi keamanan dan kenyamana wanita itu sendiri...tentu aman dari gerayangan laki-laki jahil dan tak bertanggung jawab, aman dari zina dan aman dari ghibah dan fitnah.

    namun aturan-aturan itu tak akan berguna apabila pribadi seseorang belum mau diatur alias belum sadar...sudah jelas batasan2 dalam Qur'an kok, nggak usah dipatroli sama petugas pun kalau sudah sadar dari lubuk hati paling dalam bakal aman negeri ini...intinya, kesadaran setiap individunya yang perlu diperbaiki

    BalasHapus
    Balasan
    1. tepat mbak khusna,,tapi apalah arti aturan tersebut kalau kalau masih banyak tempat untuk berduaan.
      seperti yang mbak khusna paparkan,aturan itu tidak akan berguna apabila pribadi seseorang belum sadar.. terutama untuk orang tua yang mengizinkan anaknya keluar malam diatas jam 10 bersama orang yang bukan muhrimnya..
      terimakasih pendapatnya mbak :)

      Hapus
  9. untuk tujuan baik dan memang sesuai syariat Islam tidak masalah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. tujuannya baik tapi belum tentu tepat ya mama cal-vin :)

      Hapus
  10. Sebenarnya memang bagus ini aturannya namun dalam segi keselamatan kurang terjamin sich

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih terjamin kalau berkendara sepeda motor mengenakan helm ya mas :)

      Hapus
  11. Kita semua berharap Aceh tetep sesuai dg julukannya Serambi Mekah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. harapan yang harus terus diperjuangkan mas.. semoga!!!

      Hapus
  12. Owh, itu merupakan adat ya bu tidak boleh duduk ngangkang :)
    Dikampus saya banyak cewe rata-rata ngangkang semua duduknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang miring bisa di hitung ya mas :D

      Hapus
  13. Duduk mengangkang itu...
    Gak salah kok. Malah justru buat keselamatan si perempuan ybs itu.
    Aturannya..... terlalu berlebihan menurutku.

    Menurutku yaa...
    Pendapat boleh beragam-ragam dong hehehehe


    Aku follow blogmu yaa. Follback sangat diharapkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh kok berpendapat,,kan memang ada dalam UUD 45 :D
      oke,makasih pendapatnya..

      Hapus
  14. Mungkin ada maksud tersembunyi dibalik fenomena ini.
    kalo melihat peraturan ini, bisa jadi agar masyarakat di lhokseumawe jauh dari kata buka aurat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa jadi begitu.. biar menjaga izzah si wanita itu sendiri mungkin ya.. :)

      Hapus
  15. karna belum terbiasa dengan duduk yang seperti perempuan jadi agak kaku kali ya
    tapi ya klo da biasa mungkin biasa aja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa karena biasa ya.. tapi kalau udah biasa tetap ga bisa gimana yaa :D

      Hapus
  16. Kalo zaman-zaman yang lalu sih di daerah saya juga sama yang namanya perempuan kalo bonceng motor ya duduknya miring semenjak sekarang aja yang punya motor dah semakin bejibun ditambah lagi dari mulai anak SD aja dah pada bisa bawa sendiri, ya sekarang sih banyakan pada ngankang hehehe...paling juga yang biasa duduknya miring biasanya sih ibu-ibu tuh...Apalagi di Jakarta mbak tukang ojeknya aja banyak juga yang perempuan hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya belum pernah di jakarta ngerasain naik ojeg yg tukang ojegnya perempuan mas.. :D

      Hapus
  17. Assalaamu'alaikum wr.wb, mbak Yuli....

    Satu peraturan yang diusahakan walaupun tidak menepati kehendak semua pihak, harus dipikirkan kebaikan dan manfaatnya saat itu. Sekurang-kurang nanti, setelah ada sedikit kesedaran, maka perlu diketatkan lagi mengikut syariat. Yang penting iman dan akidah yang pertama perlu dikukuhkan, baru mudah untuk menjalani syariat Islam. Selagi ada pengaruh jahiliah barat, selagi itu umat Islam tidak merdeka imannya. Ingatan yang baik untuk kita jadikan pedoman. Wallahu'alam.

    Salam sejahtera dan salam Maal Hijrah 1435 dari Sarikei, Sarawak.

    SITI FATIMAH AHMAD

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaykumussalam w w mbak fatimah..

      setuju mbak,,perlu ada kesadaran dak kefahaman individu itu sendiri. Bagaimanapun aturan dibuat sedemikian rupa untuk menjaga kehormatan wanita,namun jika dari dalam diri tidak mau menghormati diri sendiri sulit rasanya. terimakasih atas pendaapatnya mbak.. :)

      Hapus
  18. Semoga niat baik pemerintah kota Lhokseumawe bisa terwujud dan bisa diterima oleh masyarakat, amin.... :)

    BalasHapus
  19. kalau menurut sayah pribadi bagusan duduk ngangkang daripada duduk miring dikerndaraan bermotor, kalau yang duduk miring bisa nengok ke arah belakang, kalau duduk ngangkang susah kan nengok kebelakang... coba kalau di belakang ada cowok ganteng pasti yang mboncengin cemburu tuh... ehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengalaman ya mang,hehehe

      Hapus
    2. pengalaman dulu waktu pacaran hehehe...

      tapi kalau cowok duduknya miring malah lucu yah....

      Hapus
  20. Trims infonya dan salam kenal sekaligus mengundang untuk meramaikan launchingnya Direktori Blog Dofollow Indonesia terbaru di 2013 dengan cara mensubmit URL atau artikelnya.

    BalasHapus
  21. Aku juga memang kurang setuju ya, ada aturan tdk boleh duduk ngangkang diatas motor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga aturannya bisa sesuai harapan ya mbak kebaikannya :)

      Hapus
  22. Aamiiin, terserah pimrednya aja deh ^^

    BalasHapus
  23. bukannya kalau duduk miring malah susah ya pegangannya, hehe
    aku sendiri ya, kalau misal bonceng orang duduknya miring jauh lebih susah bawanya, soalny gak imbang >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. apalagi kalau jarak jauh dan lagi macet ya mbak :D

      Hapus
  24. saya lebih nyaman mengenakan rok, jadinya tiap naik motor sekalipun lagi pakai celana panjang tetep aja bawaannya pengen duduk menyamping.. nice share

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga selalu mengenakan rok dan selalu pakai celana panjang tebal mbak,,tapi terbiasa duduk ngangkang kalo di sepeda motor apalagi ketika di jakarta yang di jalan bisa berjam-jam.. karena untuk keamanan dan kenyaman diri sendiri juga pengemudinya :)
      kecuali ketika naik ojeg selalu miring,karena orang lain dan jarakpun dekat :)

      Hapus
  25. Klo kata temen ane, cwe gak boleh ngangkang karena khawatir nanti masuk angin :P

    BalasHapus
  26. peraturan disana memang ketat..
    bagus juga ya mbak untuk wanitanya... ^_^

    BalasHapus
  27. jaman sekarang mba banyak banget aturan tapi yang bikin aturan nya malah menyalah gunakan

    BalasHapus
  28. kalau soal yang laen seh aku gak berani komen yak/. tapi kalau soal yang mengangkang aku gak setuju deh, soalnya gak nyaman banget kalau harus duduk menyamping, pakaian rawan buat nyangkut di motor, dan kalau turun dan naik rawan jatoh. Lebih enak dan aman ngangkang seh sebenarnya.

    BalasHapus
  29. Bagus juga yaaa peraturan di Aceh,.. lebih menggambarkan kalau Aceh adalah kota serambi mekah,, :)

    BalasHapus
  30. bingung juga ya menentukan sisi baik atau tidaknya peraturan yang baru ini, semua mesti dilihat dr semua sudut pandang, klo dilihat dr etika mmg kurang bagus duduk mengangkang tp klo dilihat dr segi keamanan justru duduk seperti ini sangat bagus

    BalasHapus
  31. diindonsiakan beragam suku dan budaya jadi banyak sekali hukum dinegeri kita ini saodara

    izin follow sama minta follbacknya gan

    BalasHapus
  32. Setuju dengan mbak Yuli.
    Lagian duduk menghadap depan itu lebih aman lho. Orang kayak saya ini mudah jatuh kalo duduk menyamping. Heran saya susah seimbangnya kalo duduk menyamping, beda dengan duduk menghadap depan. Rasanya lebih mantap begitu, apalagi kalo bawa anak ...

    BalasHapus
  33. tujuannya kn baik, jd kita positif thinking ajalah... sp tahu mereka mencoba menerapkannya dr hal-hal yg kecil dahulu, trus melebar ke hal2 yg lebih penting.

    semoga.

    *btw, follow sukses, mbak.

    BalasHapus
  34. setuju ama artikelnya . . .
    lebih bagus lagi kalo ada gambar nya :D:D:D:D . . . .

    salam kenal ditunggu kunjungan baliknya . . .

    BalasHapus
  35. aturan yang menghargai kodrat wanita, semoga hati setiap wanita disana jg tidak "ngangkang", bukan hanya sikap tubuh :)

    BalasHapus
  36. Hmm.. kapan ya ada provinsi berani bikin aturan: warga dilarang korupsi! :)

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya ya..
Silahkan tinggalkan komentar sesuka hati asal sopan dan tunggu kunjungan balik saya ke blog teman-teman^^