Sabtu, 24 Februari 2018

Sabtu ceria

Hari ini aku bahagia
Melihat senyum dan tawa
Pada kalian semua
Iya, kalian semua!

Yang telah lama kunanti-nanti
Dari hari ke hari
Menunggu harap di hati
Akhirnya datang dengan pasti

Aku bahagia
Berbincang dengannya
Sambil menyebut namanya
Lalu larut becengkerama

Aaahhh pokoknya aku bahagia
Dengan luapan tak terkira
Seolah ingin berkata
Hari ini aku sukaaaa

Walau lelah di raga
Itu tak mengapa
Asal yang diharap tiba
Dengan sangat suka cita

Jumat, 23 Februari 2018

Belum Menulis Tantangan

Hari ini sudah memasuki hari terakhir weekdays. Biasanya, sebelum hari jumat saya sudah setor tantangan. Karena dapat dipastikan kalau sudah weekend, otak saya tidak bisa diajak kompromi untuk menulis tantangan.

Satu pekan ini saya full  enggak bisa menulis dengan tenang di blog. Kenapa? Saya menjadi sie perlengkapan pada acara family gathering yang akan diadakan pada sabtu tanggal 24 Februari 2018 esok. H-1 untuk hari ini.

Selama satu pekan ini, saya ngebut mengerjakan semua tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab sie perlengkapan. Mulai dari pesan Backdrop, belanja untuk hadiah-hadiah lomba, belanja untuk goodie bag snack anak, belum lagi bungkus-bungkusin hadiahnya. Pun nulisin sekitar 200 nama peserta di nametag. Pfiiuuhhh... Lelah sih, tapi senang.

Sepanjang saya ikut serta dalam  kepanitiaan, saya rasa kepanitiaan ini yang banyak menguras tenaga dan waktu. Mungkin karena sekarang sudah jadi emak-emak ya, harus bisa bagi waktu antara pekerjaan rumah tangga, ngurus anak dan suami serta mengerjakan tugas kepanitiaan.

Dulu dari SMP hingga kuliah, masum dalam sie danus, humas, konsumsi, bazar, acara dll mah enjoy aja. Mau gerak kesana hayuk, mau gerak kesini woke. Sekarang mau gerak kemana-mana kudu liat jam. Waktunya jemput anak sekolah ya sudah harus siap. Selesai ga selesai pekerjaan lain, ya harus ditinggalkan.

Duluuu...

Ngerjain tugas kepanitiaan sampe larut, ya enjoy aja. Rapat sampai ga inget waktu, ya asyik aja. Sekarang... Mana bisaaa... Hahaha.


Tapi disitulah seninya. Tantangan tersendiri bagi para emak. Eaaa... Ya kan ya kan!

Pernah ga sih pas rapat keingetan hyaampuunn belum masak nasi! Atau aduh lupa, setrikaan lagi numpuk! Saya sih sering.. Wkwkwkwk. Jangan ditiru yaa.. Tidak baik. Hihihi.

Begitulah ya nikmatnya seorang ibu rumah tangga yang tanpa ART namun aktif di luar. Eh iya, sebenarnya saya sih enggak aktif-aktif banget. Masih banyak emak super yang bisa mem agi waktu dengan amat sangat santai. Ini beres itu oke! Saya mah apalah, hanya sebutir meises yang nempel di kardus martabak. Mau dimakan nempel, ga dimakan sayang. Ahaha.

Intinya, hari ini saya nulis begini dulu aja deh. Masalah tantangan akan saya pikirkan di kemudian hari. Semoga bisa memposting tantangan di weekend. 

Oiya, doakan acara family gatheringnya  yang akan berlangsung besok lancar ya.. Semoga tidak terkendala apapun. Cuaca mendukung dan seluruh peserta happy. Aamiin.

#onedayonepost
#ODOPbatch5

Kamis, 22 Februari 2018

Klakson

Kenapa sekarang fungsi klakson menjadi seperti mengintimidasi orang ya....?

Contohnya niii...

1. Lampu merah masih 5 detik lagi udah tin ton tin ton.

2. Udah tau macet, masih ada aja yang bunyiin klakson. Yaa kaallliiii... Orang juga mau jalan kok,mana ada yang mau berhenti di tengah jalan, hahaha

3.Orang nyebrang di jalan kecil atau bukan protokol (yang tidak ada jembatan penyeberangan) diklaksonin,padahal sudah memberi isyarat untuk meminta jalan. Tapi tapi... Kadang terlihat begitu kesal si pengendara karena mungkin orang nyeberang jalan dianggap telah mengganggu perjalanannya bahkan sampai diklaksoni. Weleh weleh.. Kagak boleh nyebrang apa ya kita. 

4. Ada mobil putar balik,diklaksonin. Tunggu laaah... Paling cuma beberapa detik doank kok. 

Rabu, 21 Februari 2018

Lelah tak Berujung

Tempo hari.. 

Pemandangan selepas ba'da isya saat kami keluar rumah...

Jalanan ramai,penuh sepeda motor,mobil,angkot,bus,truck,gerobak tukang jualan,orang-orang yang berjalan kaki ataupun menyeberang jalan,ada pula yang berdiri menunggu angkutan umum sambil resah melihat jam tangan.

Lampu merah. 

Kendaraan kami berhenti. Mata saya mengamati satu persatu mereka yang sedang berkendara dengan motor. Rata-rata mereka mengenakan helm,lengkap dengan jaket,sarung tangan ada juga yang menggunakan masker penutup hidung. Mengenakan sepatu dan dibahunya menggendong sebuah tas ransel atau selempang. Ciri orang yang pulang sehabis bekerja.

Wajah-wajah lelah tercermin dari pandangan mereka. Tubuh-tubuh letih tergambarkan ketika diantara mereka ada yang meregangkan tangan kedepan sambil menekuk leher ke kanan dan kiri. Namun semangat sampai rumah tak pernah kalah oleh raga yang remuk redam.

Barangkali dari mereka,ada yang ingin cepat-cepat pulang agar bisa bermain lebih cepat dengan anaknya. Mungkin ada juga yang ingin cepat sampai rumah karena sudah lapar dan tentu saja terbayang masakan ibu atau isterinya yang begitu lezat. Ada juga yang ingin cepat mandi,menunaikan kewajibannya sebagai hamba yang beriman lalu beristirahat diatas kasur yang empuk sambil memeluk guling,lelap dalam mimpi yang syahdu.

Kendaraan kami melaju kembali...

Gerimis kecil mulai turun. Jalanan mulai basah. Saya melihat ke arah kiri. Diantara lalu lalang kendaraan ada yang sedang menuntun sepeda motornya di tengah rintik hujan. Entah pecah ban atau habis bahan bakar. Tetiba hati jadi pilu. Semoga sepeda motor si bapak dapat segera dikendarai lagi.

Pemandangan malam di pinggiran ibu kota.

Kendaraan kami terus melaju...

Saya mencoba bertanya kepada suami..

Saya: "Ay,masih banyaaak banget ya yang baru pulang kerja.Alhamdulillaah ayah udah sampai rumah ba"da maghrib tadi. Capek gak sih, Ay?"

Suami: "yaaa begitulah. Ayah aja kalo udah sampai rumah pengennya santai.."

Saya: "ngebayangin orang yang berangkat pagi buta pulang udah larut malam. Di jalan kayak udah capeeek banget ya ay. Apalagi kena macet di jalan. Bikin marah-marah ya, Ay.." saya nyengir sedikit

Suami: "untuk saat ini yaaa kita baru  bisa kayak gitu. Ayah masih mending berangkat lihat matahari pulang matahari baru terbenam. Namanya juga pekerja. Yuuuk berdoa biar bisa punya perusahaan sendiri. Kalo ayah punya perusahaan nanti pegawainya gak malem-malem pulangnya. Hari Jum'at ayah liburiiiin biar sholat jumat dan ibadah lainnya di hari jumat bisa lebih greget..."bibir beliau melebar 2cm ke kanan dan kiri.

Saya: "aaamiiin..."

Percakapan yang sederhana. Sering saya memikirkan suami,bapak dan kakak saya yang tiap hari penuh semangat menjalankan ibadahnya menjemput rezeky. Lelah?iya. Bosan dengan kemacetan? Pasti. Namun mereka terus bersemangat. Walau peluh membanjiri,hanya sedikit terdengar keluh.

Sehat ya ayah,papa dan mas..😘

Sehat untuk para ayah,kakak,adik dan semua yang sedang berjuang beribadah di jalan Allah untuk menjemput rezeky. Semoga berkah 😊

#onedayonepost
#ODOPbatch5 

Selasa, 20 Februari 2018

Tekwan Super Duper Yumiiiy

Sebenarnya saya lagi bosan dengan menu sehari-hari yang itu lagi itu lagi. Pengen banget bikin yang segar-segar. Akhirnya Pilihan jatuh ke tekwan.  Wokeh.. Eksekusi di mulai. 

Namun tiba-tiba terjadi tragedi. Blender rusak. Yak, blendernya ga mau nyala. Mati total. Hastagah... Yasudah, kita bermain ulekan saja deh ya. Hitung-hitung olahraga tangan, haha.  

Daannn... Taraaaa ini hasilnya.



Tekwan homemade aLa Yulita, wkwkwk.  Enggak pakai bangkoang dan bunga sedap malam. Kenapa? Karena enggak ada di warung, haha. Yowis, seadanya saja ya. 

Senin, 19 Februari 2018

Membunuh Cicak

"Bundaaaa..." teriak Akhtar dari dalam kamarnya pada suatu malam menjelang tidur.

Sontak saya berlari kecil menuju ke kamarnya. Ini teriakan tidak biasa. Ada apakah?
Saya membuka pintu kamar Akhtar dengan tergesa.

"Ada apa, Nak?"
"Ada suara-suara aneh, Bunda.." jawabnya dengan menitikan air mata.
Saya terkejut. Kok bisa sampai menangis cuma karena mendengar suara aneh.
"Suara apa?" selidik saya.
"Ga tau... suaranya kayak benda jatuh di dalam kamar ini.." suaranya terdengar seperti orang ketakutan.


Tak lama kemudian terdengar suara Ckckckckckck...

Minggu, 18 Februari 2018

Kambing tak Bertuan

Cerita ini sudah lamaaa sekali. Kejadiannya ketika saya masih berada di Tanah Rencong. Sekitar lima tahun silam. Wah, sudah lama ya. Iya gapapa deh ya, saya tulis kembali sebagai pengingat masa-masa dahulu saat interaksi dengan hewan-hewan ternak menjadi salah satu bagian dari hidup kami. 

***

Hampir setiap hari dan setiap waktu kambing-kambing itu selalu mampir ke rumah kami. Untuk sekedar minum air AC (yang memang kami tampung pakai ember karena selang tak cukup panjang bila di alirkan ke tanah) atau singgah meneduh dari terik matahari yang menyengat. Pada dasarnya kami (saya dan suami) tak pernah merasa keberatan apabila kambing-kambing itu mampir sejenak untuk beristirahat. Walau terkadang dengan suaranya yang 'merdu' mereka membangunkan Akhtar yang sedang tertidur pulas. Tak mengapa,karena bukan di malam hari mereka 'mengembek'.

Akhtar juga senang bila kawanan kambing itu datang berbondong-bondong masuk ke dalam pekarangan rumah kami. Saya juga bisa memberi tahu Akhtar bahwa hewan-hewan tersebut bernama kambing, Akhtarpun merasa exited 'berinteraksi' dengan mereka. Mereka juga tak lupa mencicipi rumput yang tumbuh subur di halaman samping. Kami senang bila mereka pergi dalam keadaan perut kenyang dan nyaman setelah berkunjung dari rumah kami.

Semuanya terasa baik-baik saja dan tak mengganggu,sampai tiba saatnya mereka mulai melakukan ulah. Ulah yang memang pasti di lakukan oleh semua hewan bila kenyang melanda. Apalagi kalau bukan 'buang hajat'. 

Ooh...tidak!!! Bulatan hitam kecil-kecil dan genangan air yang _hyaampun_ bau itu telah meluluh lantahkan perasaan senang kami. Mereka selalu meninggalkan jejak. Jejak yang tercecer baik di konblok maupun lantai. Mereka juga sering kali menggelindingkan ember yang berisi air AC. Jika ember sedang penuh dengan air maka dapat di bayangkan air tumpah dan membanjiri lantai. Entah pada siapa kami mengadu supaya kambing-kambing itu dijaga,yang pasti oleh pemiliknya. Yang kami tahu,kambing-kambing itu milik seseorang. Tapi siapakah tuannya?

Dan kamipun hanya bisa berkata,namanya juga kambing...

***

Pelajaran untuk kami:
Jika suatu hari nanti kami memiliki hewan ternak, sebaiknya dijaga bila ingin melepasnya keluar kandang.  Demi meminimalisir kerugian dan rasa tak nyaman orang lain yang disebabkan oleh hewan ternak kami. Karena semua milik kami adalah tanggung jawab kami dan akan di pertanggung jawabkan kelak di hadapanNYA.