Selasa, 23 Agustus 2011

Memory Triwulan Pernikahan


Waktu Dhuha, 30 Desember 2010
Memory akhir tahun triwulan pernikahan

A
ku masih termenung disudut kamar. Bukan meratapi hidup yang berat bukan juga menangisi nasib yang  sulit. Bukan karena itu semua. Bukan karena yang sulit-sulit atau yang tak bisa kutelaah. Tapi karena hati begitu adanya.
Terkadang aku tak mampu berucap bukan karena tak ada kata-kata,tapi karena ku terlalu lemah untuk memahami semua. Tabir cinta yang membuatku kuat melihat sekitar. Hanya saja haru di dada semakin sesak kurasa. Aku paham,masih banyak insan yang lebih dari ini ujiannya. Mungkin bukan hanya ujian,tapi teguran. Atau bisa jadi sebuah jalan yang harus dilewati untuk kenaikan tingkat keimanan dan kesetiaan cinta. Ah.. ku pikir terlalu berlebihan. Tapi ku yakin pasti ada hikmah atas semua ini. Karena tak mungkin ada yang sia-sia.
Kasihan melihat suamiku yang terus menahan rasa sakit yang datang lagi. Setelah sariawan yang perih itu,hanya berseling dua hari suhu tubuhnya meningkat dan pening dikepalanya datang. Ada apa gerangan dengan suamiku. Sakit apa ia. Hanya satu hari kurawat dirumah,akupun tak tega melihatnya menahan rasa panas ditubuhnya. Akhirnya kami mencoba cek darah dan hasilnya adalah positif demam berdarah. Siang itu hari jumat kami langsung menuju rumah sakit Bunga Melati dan akhirnya aku merasa sedikit lega karena suamiku telah ditangani dokter.
Malam kedua dirumah sakit suamiku gelisah. Mungkin karena rasa panas ditubuhnya semakin menjadi. Malam itu adalah malam yang penuh kegelisahan. Menetes airmata ini ketika mengingat ia menangis. Tangisan yang sungguh ia keluarkan. Tangisan yang baru kali ini aku melihatnya. Suamiku menangis. Wajah yang selalu kulihat ceria itu kini tampak muram dan merah. Matanya basah oleh airmata,tangannya erat memegang jemariku dan terus menangis.

“Wahai suamiku…Aku disini,Sayang…  Lihatlah aku yang tetap disini dan terus akan menemanimu. Aku tahu yang kau rasa,aku tahu yang kau maksud,tapi maafkan aku karena mungkin hadirku disini tak cukup membantumu untuk menahan rasa sakit yang kau rasakan saat ini. Tapi akan kucoba semampuku untuk menghiburmu walau hanya sekecil biji zarah. Suamiku… mungkin saat ini fisikku lebih kuat darimu,namun hatiku mungkin lebih lemah darimu atau bahkan sangat lemah. Suamiku… cobalah bayangkan indahnya hidup kita kelak bersama para buah hati. Kau harus bertahan Sayangku.. Demi aku,demi kamu,demi anak-anak kita nanti,demi kita semua Sayangku… Ini tanganku mendekap pipimu yang panas,tapi cobalah rasakan ada kesejukan dari tangan mungil ini. Hanya itu yang dapat kulakukan. Hanya sebagai penghibur hati saat kau gundah…”

Mungkin kata-kata itu yang terucap dalam hati ketika aku memeluknya. Resah dan gelisah kian menjadi ketika tengah malam menggelayut. Makin panik jiwa ini rasanya. Tapi kuyakin ada Cahaya para malaikat bertasbih untuk kasembuhannya. Lelah menerjang rasa kantukpun tak dapat kuhindari. Sedikit kupejamkan mata ini agar perih yang tertanam dapat hilang. Namun baru sesaat terpejam aku dikagetkan lagi dengan tingkahnya yang gelisah. Terkadang ia mengigau tak jelas. Aku tak berani mengusap wajahnya ataupun anggota tubuh lainnya karena takut ia akan terbangun dari tidurnya yang pulas.
Alhamdulillah hari senin kami sudah bisa menikmati indahnya singgahsana di jalan antara kuta Blang,Lhokseumawe. Secara perlahan tubuhnya semakin membaik.
“Semoga cepat sembuh suamiku Sayang…”


Triwulan pernikahanku yang tetap indah terukir dihati.
Laksana pelangi yang tercipta sesudah hujan
Tak boleh takut gelombang ataupun badai
Karena itu hanya kerikil yang harus dilewati
Yakin saja pasti semua akan indah
Seindah harapan yang menjadi tujuan…
Aamiin…

Tercipta dari hati,untuk hati
dan akan menjadi hati
,,,,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungannya ya..
Silahkan tinggalkan komentar sesuka hati asal sopan dan tunggu kunjungan balik saya ke blog teman-teman^^