Mataku terus berputar mencari Anin,gadis berkerudung toska yang telah memberiku pinjaman uang. Gadis? Oh.. Aku tak tahu dia sudah menikah atau belum. Harapanku belum. Dan aku berniat akan menjadikannya dia sebagai isteriku. Semudah itukah? Aku akan berusaha.
Pertemuanku dengan Anin baru terjadi sekali. Itupun karena kebodohanku. Kala itu pagi hari, aku naik bus pertama patas AC 81 jurusan Kalideres-Depok. Aku duduk di kursi dua orang. Sebelah kiriku jendela dan sebelah kananku duduk seorang wanita bertubuh mungil,berkacamata,sedang memangku sebuah buku. Di pergelangan kirinya melingkar jam tangan merk G-shock. Hihi.. Pasti wanita tomboy.
Seperti biasa, apabila bus sudah memasuki jalan tol dalam kota, kondektur bertugas narikin ongkos.
Saat hendak bersiap-siap mengambil uang dari dalam dompet, aku kaget bukan kepalang karena tidak menemukan dompet. Shit! Dimana dompetku. Jatuh? Dicopet? Atau tertinggal di rumah? Dengan wajah panik, aku mencoba menelepon mama, berharap dompet kesayanganku itu tertinggal di rumah.

