Rabu, 28 Maret 2018

Hutang pada Anin

Mataku terus berputar mencari Anin,gadis berkerudung toska yang telah memberiku pinjaman uang. Gadis? Oh.. Aku tak tahu dia sudah menikah atau belum. Harapanku belum. Dan aku berniat akan menjadikannya dia sebagai isteriku. Semudah itukah? Aku akan berusaha.

Pertemuanku dengan Anin baru terjadi sekali. Itupun karena kebodohanku. Kala itu pagi hari, aku naik bus pertama patas AC 81 jurusan Kalideres-Depok. Aku duduk di kursi dua orang. Sebelah kiriku jendela dan sebelah kananku duduk seorang wanita bertubuh mungil,berkacamata,sedang memangku sebuah buku. Di pergelangan kirinya melingkar jam tangan merk G-shock. Hihi.. Pasti wanita tomboy.

Seperti biasa, apabila bus sudah memasuki jalan tol dalam kota, kondektur bertugas narikin ongkos.

Saat hendak bersiap-siap mengambil uang dari dalam dompet, aku kaget bukan kepalang karena tidak menemukan dompet. Shit! Dimana dompetku. Jatuh? Dicopet? Atau tertinggal di rumah? Dengan wajah panik, aku mencoba menelepon mama, berharap dompet kesayanganku itu tertinggal di rumah.

Selasa, 27 Maret 2018

Warna Kesukaan

Dulu ketika usia saya masih balita, saya suka warna yang kecewek-cewekan. Ungu dan pink. Atau pink keunguan, bisa juga ungu agak ke pink. Segala macam kaos, pita rambut, bandana, tas, bahkan sampai sepatu, saya punya yang warna pink. Keren kan! Pecinta pink atau ungu sejati. Bukan begitu?

Memasuki usia SD, saya tidak suka lagi dengan warna pink dan ungu. Saya jadi suka warna hijau. Hijau apa saja. Bisa hijau daun, hijau lumut atau hijau toska. Sampai saya request ke mama, minta lantai kamar warna hijau lumut. Hihi.. Awalnya mama ragu, karena lantai berwarna hijau lumut itu gelap. Nanti kamarnya jadi gelap, suram dan terkesan... horor! hahaha.. Enggak-enggak. Abaikan saja ya yang horor. Intinya, Lantai berwarna hijau lumut tidak  cocok untuk kamar. Tapi saya tetap memaksa. Karena buat saya saat itu, warna hijau lumut itu elegan dan kesannya mewah.

Senin, 26 Maret 2018

Batuk

Disaat aku sedang serius memasak, engkau hadir secara tiba-tiba. 
Lalu aku memalingkan wajah.
Khawatir masakan yang kubuat dapat terkontaminasi olehmu.
Hadirmu cukup merepotkanku.

Disaat aku tengah asyik mengunyah makanan. Engkau datang mengagetkanku.
Airmata bercucuran. Rasa mual tak terenyahkan. 
Kau bikin makanku menjadi tak nikmat. Hampir keluar lagi.
Hadirmu memang tak pantas untukku.

Disaat aku sedang memberi sambutan, engkau muncul tanpa intruksi.
Maka, dengan sedikit menutup mulut aku berdehem. 
Berharap engkau lari dan takkan kembali.
Tapi tidak demikian. Justru kau makin beringas.
Hadirmu sangat menggangguku.

Minggu, 25 Maret 2018

Buah Tangan dari Arab

Hari ini agenda kami sekeluarga adalah bertandang ke rumah saudara yang baru saja sepekan lalu pulang dari umroh. Niat utama kami adalah silaturahim dan tentu saja ingin mendengarkan langsung pengalaman beliau selama beribadah di tanah suci.

Perjalanan dari Pondok Aren menuju Matraman pagi tadi sedikit tersendat. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi, ternyata jalanan sudah ramai dan bisa dikatakan macet. Padahal hari minggu. Tumben banget deh.

Kami sampai di matraman sekitar jam setengah 12 siang. O-ow.. Lama banget ya.. hihi. Yah, namanya juga Jakarta, kalau enggak macet malah aneh. Ups.

Sampai disana kami disambut baik oleh tuan rumah. Akhtar biasa memanggil yangkung dan yangtie untuk saudara kami yang di matraman ini. Mereka terlihat amat bahagia saat menyambut kedatangan kami. Kebetulan tadi tamunya bukan hanya dari keluarga kami, tapi ada juga dari keluarga kakak saya.

Sabtu, 24 Maret 2018

Sabtu Terharu



Malam ini, saat saya sedang berada di dalam kendaraan, saya menyengajakan untuk mengecek pesan-pesan yang ada di WhatsApp. Setelah memastikan tak ada yang terlewat di pesan pribadi, saya beralih untuk membuka satu persatu WhatsApp grup.

Ah ya, saya baru ingat kalau hari ini adalah pengumuman kelulusan ODOP Batch 5 untuk para pesertanya. Melihat chat yang sudah ratusan, saya makin penasaran dengan isi obrolannya. Klik!

Saya simak, jempol kanan terus naik turun, scroll perlahan dan... Aaaakkkk mata saya  menemukan sesuatu! Yaph, PENGUMUMAN KELULUSAN!

Depannya Y.. Mana nama yang depannya Y yaa.. Begitu bathin saya sambil mata terus menatap layar Hp dengan seksama. Hanya dalam hitungan 3 detik, saya berhasil menemukan nama Yulita Widya Ningsih di urutan 40. Hiyeeee... Alhamdulillaaaah saya lulus!!! *koprol cantik.

Jumat, 23 Maret 2018

Nasi Liwet Sunda : Diet? Besok Aja deeeh

Kalau kemarin saya posting tentang sambal bawang si pendamping nasi liwet, hari ini saya posting tentang nasi liwetnya nii..

Duh, saya kalau bikin nasi liwet ga nahan sama harumnya. Padahal nasi liwet sunda kan ga pakai santan ya, tapi bisa harum khas gitu..

Kira-kira dari mana ya aromanya? Huum betul, dari teri yang sudah di goreng kering kemudian dicampurkan ke beras yang akan dimasak. Tak lupa duo bawang, batang sereh, lengkoas dan daun salamnya yang juga ditumis terlebih dahulu sebelum pada akhirnya mereka bercampur menjadi satu di dalam magic com. Ahaha.. Iya saya pakai magic com masaknya. Yang simpel-simpel aja lah ya, yang penting anak dan suami lahap 😂

Okeyh, tanpa mengulur waktu dan memperingkat tulisan,berikut ini resepnya.

Kamis, 22 Maret 2018

Sambal Bawang Nyoozzz

Tempo hari saya bikin nasi liwet sunda. Otomatis pasangannya sambal donk ya. Tanpa sambal apalah arti seporsi nasi liwet sunda bagi para pecintanya,eaaa.

Baiklah, karena suami lagi bosan dengan sambal terasi, pagi harinya sebelum berangkat kerja beliau request kalau kali ini bikinnya sambal bawang saja.

Okesiap, apa sih yang enggak buat suami ter.. ter.. Titik-titiknya silahkan menyesuaikan dengan suami masing-masing ya.. Apa? yang jomblo? Mmmm... Ya cari dulu suaminya.. Wkwkwk.

Bikin sambal bawang itu mudah sekali. Tinggal kedip juga jadi. Hihi. Agak lebay memang. Tapi beneran loh. Semua orang pasti bisa.. Bahkan yang enggak pernah pegang cobek pasti bisa. Tinggal ikutin aja langkah-langkahnya secara bertahap,dijamin sukses!

Berikut resep sambal bawang anti gagal

Bahan:
10 siung bawang merah ukuran sedang
3 siung bawang putih ukuran sedang
10 buah cabai merah keriting
20 buah cabai rawit merah/orens yang gemuk

Pelengkap:
Garam secukupnya
Gula secukupnya
Minyak untuk menggoreng dan menumis

Cara membuat:
1. Goreng semua bahan tapi jangan sampai terlalu layu
2. Uleg/blender (tanpa air) kasar dan diberi sedikit garam dan gula
3. Tumis lagi dengan sedikit minyak dan api kecil, tambahkan lagi garam dan gula.
4. Atur rasa
5. Sajikan



Mudah bukan?

Perhatian!
Saat menumis sambal, siap-siap pakai masker ya.. Karena bakal bersin-bersin.. Hihihi