Tampilkan postingan dengan label cerita cantik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita cantik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2020

Ketika Suami Mengisolasi Diri 5 Hari

Alhamdulillaah ‘alaa kullihaal. 
Pertama kali suami mengabarkan bahwa harus swab ulang itu rasanyaaaa... 
Bingung.. Kaget.. panik... bertanya-tanya... 
--------------------

Sabtu, 28 April 2018

Emak-emak Latihan Baca Puisi

Tak terasa, Pentas Seni dan Perpisahan TKIT Cordova tinggal menghitung hari lagi. Alhamdulillah amanah untuk PENSI mendatang sudah 85% siap. Bingkisan untuk guru dan siswa sudah oke semua. Yang belum dipacking hanya goodie bag snack siswa. Sedangkan untuk snack dan makan siang wali murid sudah dihandle oleh pihak sekolah. Jadi komite aman lah, hihi.

Sebagai ketua komite, saya harus mempersiapkan diri untuk sambutan. Hmmm... Padahal jujur, saya paling tidak suka kalau disuruh sambutan. Saya lebih nyaman bekerja di belakang layar. Tapi apa boleh buat, ketua wajib sambutan. Dan yaaa... saya belum mempersiapkan apa-apa termasuk mau bicara apa di atas panggung nanti, haha.

Oya, konon katanya, kalau ngasih sambutan ga boleh kelamaan, nanti tamunya pada bete alias ngantuk. So.. Baiklah, untuk besok saya akan berbicara sesimpel mungkin. Tamu senang saya aman. Ini alasan aja biar ga bingung mau ngomong apalagi sih sebenarnya, hehe. 

Kamis, 26 April 2018

Puisi untuk Perpisahan dan PENSI

Bikin puisi itu gampang-gampang susah. Kebetulan saya dan rekan-rekan komite Insyaa Allah akan tampil baca puisi saat Perpisahan dan Pentas Seni TKIT Cordova tanggal 9 Mei mendatang. Jadi kami, saya khususnya, sudah dari satu bulan lalu corat coret bikin puisi untuk guru. Hasilnya? Minimalis banget, hahaha.

Ini nih hasilnya. Dibaca secara bergantian.

***

Guruku, Pahlawanku...

( Bunda Fathih)
Salam istimewa kepada setiap lekukan di bibirmu yang menyapaku setiap pagi…
Kau yang tak pernah datang telat, Aturan waktumu sangat akurat

(Bunda Dimas)
Kau melatihku menulis, meski aku terus menangis
Kau yang mengajarkanku membaca, meski lidah tak mau bicara

(Bunda Akhtar)
Kau… Yang sabar meski aku nakal
Kau… Sosok hebat penyulut semangat, Yang tak pernah lelah menyampaikan amanah

Selasa, 24 April 2018

Bingkisan untuk Siswa

Setelah bingkisan untuk guru rampung, maka selanjutnya kami menyiapkan bingkisan untuk siswa dan siswi. Tahun ini kami berinisiatif memberi bingkisan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu untuk siswa dapat sarung dan siswi dapat mukena, tahun ini kami ingin yang bercustom.

Setelah mencari bingkisan apa yang kira-kira cocok untuk anak-anak dan sesuai budget yang sudah ditetapkan tentunya, maka kami memutuskan memberikan topi untuk siswa dan kerudung untuk siswinya. Keduanya dikasih nama masing-masing.

Waaah... anak-anak pasti senang ya dapat bingkisan yang bertuliskan namanya. Apalagi tas goodie bagnya juga ada foto mereka. Wiih keren banget pastinya.

Ini topi dan tas goodie bag 

Sabtu, 21 April 2018

Bingkisan untuk Guru

Bulan April menjelang Mei adalah bulan yang sangat sibuk bagi kami, komite sekolah TK. Karena pada bulan Mei, biasanya akan diadakan acara perpisahan sekokah, pentas seni sekaligus pelepasan bagi siswa-siswi TK B. Kebetulan untuk TKnya Akhtar, acara tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 9 Mei mendatang. 

Nah, tugas kami sebagai komite adalah menyiapkan perintilan-perintilan seperti bingkisan untuk guru-guru, bingkisan untuk siswa, snack untuk orangtua dan anak. Budgetnya sudah ditentukan dari pihak sekolah, jadi kami hanya menentukan barangnya saja.

Dana untuk bingkisan dan snack berasal dari uang iuran komite yang dibayarkan tiap bulannya. Iuran komite ini digunakan untuk kegiatan-kegiatan di luar kegiatan sekolah. Seperti makan sehat, menjenguk anak yabg sakit, menengok wali murid yang baru melahirkan dan yang utama adalah untuk bingkisan akhir tahun ajaran.

Sabtu, 14 April 2018

Menulis adalah Kebutuhan

“Cantik, coba deh bikin blog!” Usul suami di suatu malam, 7 tahun yang lalu. 

Suami saya tahu kalau istrinya ini doyan nulis. Segala yang terjadi mulai dari kegiatan sehari-hari, cerita unik yang seru, sampai kegiatan piknik pun semua ditulis menjadi status di Fb. Agak alay nampaknya. Tapi sungguh, bukan bermaksud pamer atau riya’, hanya ingin berbagi pengalaman saja.

Karena semenjak saya menikah dan ikut merantau bersama suami ke pulau seberang, saya merasa sendiri dan kesepian saat ditinggal suami bekerja. Apalagi saat itu tidak ada tv di rumah, gawaipun belum android, hanya laptop milik suami yang menemani sehari-hari.

“Tulisan Cantik jadi tersimpan lebih rapih kalau di blog. Enggak tercampur baur dengan foto yang di tag orang atau status-status pendek lainnya. Cantik juga pasti  lebih luwes menulisnya..” Lanjut beliau.

Dari situlah kemudian saya tertarik dengan usulan beliau. Akhirnya saya mencari tahu bagaimana cara bikin blog, mendekorasi, dan menatanya sesuai keinginan. Bermodalkan laptop jadul milik suami dan sebuah modem kartu pasca bayar, saya memulai bikin blog gratisan. Saya mulai menikmati hari-hari dengan utak atik blog dan menulis apa saja yang ingin saya tulis,meskipun isinya curcolan yang konyol.

Jumat, 13 April 2018

Hanya Titipan Illahi

Tiba-tiba hati saya perih. Inikah yang namanya iri? Jujur,  saya iri ketika tahu teman-teman saya sukses selepas lulus kuliah. Hati sayapun pilu ketika melihat mereka bisa menyenangkan dan mengenyangkan diri dari hasil jerih payahnya sendiri. Lantas saya? Saya hanya berdiam diri menunggu kedatangan suami di rumah. Menanti diberi uang belanja karena saya pengangguran. Saya tidak bekerja. Dan setiap hari saya mengerjakan pekerjaan yang sama yaitu nyapu nyupir ngepel masak. Tidak ada yang berbeda. Tak ada inovasi. Monoton. Kaku. Bosan. Dan saya jenuh dengan rutinitas seperti ini.

Ketika masih SD,saya bercita-cita ingin menjadi dokter. Cita-cita yang memang sangat familiar di kalangan anak kecil sebab dokter dianggap sebagai cita-cita yang WOW banget. Masuk SMP, cita-cita saya berubah, ingin jadi arsitektur handal. Kenapa? Karena zaman SMP lagi ngetrend film AADC,filmnya Nicholas Saputra dan Dian Sastro. Kalau cewek-cewek lain pada ngebet pengen kuliah jurusan sastra kayak Dian Sastro, saya malah ngebet pengen kuliah jurusan arsitektur kayak Nicholas. Keren aja rasanya cewek jago arsitektur,Ehm. 

Kamis, 05 April 2018

Manfaat Bersepeda Bagi Anak-anak


"Bunda... Akhtar main sepeda, ya!"

Begitulah Akhtar, setiap hari sabtu dan minggu pagi saat tidak ada agenda, ia selalu bermain sepeda bersama teman-temannya.

Tidak hanya saat weekend saja, senin hingga jumat pada sore harinya, Akhtar berangkat TPA juga dengan bersepeda.

Nah, kali ini saya akan mencoba menuliskan beberapa manfaat bersepeda bagi anak-anak. Saya akan fokuskan untuk usia dibawah 10 tahun saja ya. Berikut manfaatnya:

1. Belajar tentang kepemilikan barang
Dulu, saya membelikan sepeda roda dua untuk Akhtar tidak serta merta begitu saja. Akhtar menabung selama satu tahun lamanya. Walaupun pada dasarnya uang yang dimasukan kedalam celengannya uang dari saya juga, tapi setidaknya mengajarkan menabung untuk membeli sesuatu yang diinginkan otu penting sekali. Anak akan belajar bahwa ia harus berusaha terlebih dahulu untuk memiliki sesuatu. Ia pun akan lebih menghargai sepeda miliknya.

Rabu, 04 April 2018

Dari Bobo



Sejak kapan saya suka menulis? Jawabannya adalah : sejak saya bisa menulis.

Entah dari mana ketertarikan dalam dunia literasi muncul pada diri saya, sedangkan kedua orangtua bukan seorang ahli sastra ataupun yang berkecimpung di dunia jurnalistik. Tidak. Mereka juga tak pernah memasukan saya pada kursus-kursus yang berhubungan dengan dunia kebahasa Indonesiaan. Pun saya tidak pernah diikut sertakan dalam lomba-lomba karya tulis, puisi dan sejenisnya.

Orangtua saya, hanya sekedar tahu kalau anaknya senang menulis. Maka, orangtua saya, khususnya papa, berlangganan majalah bobo untuk saya. Beliau juga rajin membelikan kertas folio agar saya bisa menulis cerpen, puisi atau apa saja di kertas tersebut menggunakan bolpoint. Maklum, kami keluarga sederhana. Mesin tik pada zaman itu tergolong barang mewah, tidak ada di rumah saya.

Dari berlangganan bobo itulah hasrat mengirim tulisan mulai bergemuruh. Dengan selembar kertas dan bolpoint, saya mencoba mengirim tulisan ke rubrik cerpen dan tak disangka. Hasilnya, tulisan saya dimuat. Berbagai hadiah mulai saya terima. Dari sebuah tas, tiket gratis nonton bioskop, souvenir-souvenir bobo bahkan uang ratusan ribu rupiah. Zaman SD, uang ratusan ribu itu sudah sangat UWOW sekali buat saya. Sampai sekarang juga kok.

Senin, 02 April 2018

Aku

Hari ini saya akan menulis tentang "AKU". A-K-U. Tulisan kali ini untuk mengerjakan tantangan yang diberikan pada kelas nonfiksi. Jujur, saya bingung mau menulis apa tentang AKU, karena sudah sering kali saya menulis dengan tema yang sama. Dari zaman old hingga zaman now sudah pernah saya luapkan di blog ini. Tapi demi sebuah tantangan, catet ya.. tan-ta-ngan. saya akan berusaha 'curcol' kembali mengenai AKU. Mungkin beda versi. Hihi.

Saya adalah anak kedua dari dua saudara kandung dan tiga saudara tiri. Penjelasan mengapa saya memiliki saudara tiri kalau ditulis bisa jadi satu buku novel dengan sekian ratus halaman. Serius lho, sama sekali enggak lebay, karena ceritanya  menguras airmata dan mempermainkan emosional. Percaya kan? Percaya aja deh ya biar saya senang. Hmmm.. Mungkin ada yang mau jadi sponsor kalau cerita saya dibikin novel? Haha.. Abaikan.

Lanjut ya, saya lahir di Jakarta 29 tahun yang lalu di rumah sakit Harapan Kita pada jam 4 sore. Masih muda belia kan? Iyain aja ya.

Minggu, 01 April 2018

Nonfiksi Pilihan Saya

Pilihan yang cukup sulit ketika harus menentukan kelas lanjutan fiksi ataukah nonfiksi pada ODOP batch 5. Mengapa sulit? Karena memang kemampuan saya masih amat sangat terbatas dikeduanya. Menulis fiksi yaa begitulah, menulis nonfiksi juga ehmm kurang greget. Memang serba salah kalau penulis amatiran seperti saya dihadapkan oleh dua pilihan yang masih ikut-ikutan.

Awalnya saya memantapkan hati untuk bergabung di kelas fiksi. Karena jujur, ketika tidak ada ide untuk membuat tulisan, biasanya saya akan menulis puisi. Menulis puisi bagi saya tidak perlu membutuhkan waktu lama, hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit sudah bisa di publish. Selesai. Postingan tercukupi. Aman.

Pun ketika saya tergiur kelas fiksi dapat menelurkan karya sebuah buku. Bersama-sama berimajinasi dalam sebuah cerita. Keren banget pastinya. Ga kepengen? Ya pengen lah...

Selasa, 27 Maret 2018

Warna Kesukaan

Dulu ketika usia saya masih balita, saya suka warna yang kecewek-cewekan. Ungu dan pink. Atau pink keunguan, bisa juga ungu agak ke pink. Segala macam kaos, pita rambut, bandana, tas, bahkan sampai sepatu, saya punya yang warna pink. Keren kan! Pecinta pink atau ungu sejati. Bukan begitu?

Memasuki usia SD, saya tidak suka lagi dengan warna pink dan ungu. Saya jadi suka warna hijau. Hijau apa saja. Bisa hijau daun, hijau lumut atau hijau toska. Sampai saya request ke mama, minta lantai kamar warna hijau lumut. Hihi.. Awalnya mama ragu, karena lantai berwarna hijau lumut itu gelap. Nanti kamarnya jadi gelap, suram dan terkesan... horor! hahaha.. Enggak-enggak. Abaikan saja ya yang horor. Intinya, Lantai berwarna hijau lumut tidak  cocok untuk kamar. Tapi saya tetap memaksa. Karena buat saya saat itu, warna hijau lumut itu elegan dan kesannya mewah.

Minggu, 25 Maret 2018

Buah Tangan dari Arab

Hari ini agenda kami sekeluarga adalah bertandang ke rumah saudara yang baru saja sepekan lalu pulang dari umroh. Niat utama kami adalah silaturahim dan tentu saja ingin mendengarkan langsung pengalaman beliau selama beribadah di tanah suci.

Perjalanan dari Pondok Aren menuju Matraman pagi tadi sedikit tersendat. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi, ternyata jalanan sudah ramai dan bisa dikatakan macet. Padahal hari minggu. Tumben banget deh.

Kami sampai di matraman sekitar jam setengah 12 siang. O-ow.. Lama banget ya.. hihi. Yah, namanya juga Jakarta, kalau enggak macet malah aneh. Ups.

Sampai disana kami disambut baik oleh tuan rumah. Akhtar biasa memanggil yangkung dan yangtie untuk saudara kami yang di matraman ini. Mereka terlihat amat bahagia saat menyambut kedatangan kami. Kebetulan tadi tamunya bukan hanya dari keluarga kami, tapi ada juga dari keluarga kakak saya.

Sabtu, 24 Maret 2018

Sabtu Terharu



Malam ini, saat saya sedang berada di dalam kendaraan, saya menyengajakan untuk mengecek pesan-pesan yang ada di WhatsApp. Setelah memastikan tak ada yang terlewat di pesan pribadi, saya beralih untuk membuka satu persatu WhatsApp grup.

Ah ya, saya baru ingat kalau hari ini adalah pengumuman kelulusan ODOP Batch 5 untuk para pesertanya. Melihat chat yang sudah ratusan, saya makin penasaran dengan isi obrolannya. Klik!

Saya simak, jempol kanan terus naik turun, scroll perlahan dan... Aaaakkkk mata saya  menemukan sesuatu! Yaph, PENGUMUMAN KELULUSAN!

Depannya Y.. Mana nama yang depannya Y yaa.. Begitu bathin saya sambil mata terus menatap layar Hp dengan seksama. Hanya dalam hitungan 3 detik, saya berhasil menemukan nama Yulita Widya Ningsih di urutan 40. Hiyeeee... Alhamdulillaaaah saya lulus!!! *koprol cantik.

Rabu, 21 Maret 2018

Venus yang Tulus

Pagi tadi saat saya mengecek WhatsApp, saya tersentak. Apa-apaan ini kok saya di remove disalah satu grup yang selama ini telah membersamai saya selama lebih dari tiga bulan. Oh no! Saya sudah merasa nyaman dengan rumah kecil ini. Saya bisa curhat dengan para penghuninya kalau perjuangan posting setiap hari itu enggak mudah. Saya bisa berkeluh kesah saat menuntaskan tantangan cerbung kemarin anak sedang sakit, jadi konsentrasi terpecah. Saya bisa meluapkan semua yang ada di hati tentang jatuh bangun supaya bisa posting setiap hari tanpa hutang! Iyaph.. Tanpa hutang, alhamdulillaah...

Warga venus, yang selama ini telah menjadi bagian dari hidup saya. Yang hanya satu orang saja saya mengenalnya secara nyata yakni mbak Ajeng,kami sudah bersahabat sebelum ikutan ODOP. Selebihnya... saya tidak mengenalnya. Tapi mengapa ada rasa sedih saat berpisah dengan mereka? Apa yang membuat kami merasa kehilangan hunian?

Jawabannya hanya satu!

Minggu, 18 Maret 2018

Jika Aku Pergi


Pernah berpikir tentang kematian? Tentang waktunya saat meninggalkan orang-orang yang kita cintai?

Saya sering.

Pikiran kalau saya meninggal duluan, bagaimana anak dan suami. Apalagi anak masih kecil, masih butuh ibu untuk tempat ia berlindung. Masih butuh ibu untuk tempat ia berharap kasih dan sayang. Masih butuh ibu untuk tempat ia bermanja. Masih butuh ibu untuk tempat ia bercerita tentang serunya hari yang telah dilewati. Masih butuh ibu untuk tempat menangis mengadu segala resah. Masih butuh ibu untuk tempat bertanya jika sedang galau. Masih butuh ibu untuk tempat bersenda gurau. Masih butuh ibu untuk mendoakan setiap langkahnya.

Pun, jika saya meninggalkan suami. Apakah beliau akan menikah lagi? Berapa lama beliau akan terus mengingat saya? Berapa lama beliau akan jatuh cinta kepada wanita lain? Ketika beliau menikah lagi, akankah saya dilupakannya begitu saja? Masihkah beliau ingat tentang semua kenangan indah yang pernah kami lalui bersama? Bisakah seutuhnya beliau melupakan saya? Masihkah beliau mendoakan saya apabila sudah menikah dengan wanita lain? Masihkah ada nama saya di hatinya? Masihkah sedikit saja tersimpan nama YULITA di ingatannya? Lalu... Kalau beliau menikah lagi, wanita itu sayang kah dengan anak-anak saya? Sayangnya tulus kah? Wanita itu mau kah diajak bersusah-susah? Maukah ia mengingatkan bahwa pernah ada istri pertama dalam hidup suami saya?

Sabtu, 17 Maret 2018

Cafe Cordova

Jumat 16 Maret 2018, ada acara makan sehat di sekolahnya Akhtar. Makan sehat adalah agenda rutin sekolah yang diadakan tiap bulan pada pekan ke dua atau tiga, tergantung situasi dan kondisi.

Biasanya, menu makan sehat tidak jauh berbeda denhan menu makanan sehari-hari yakni 4 sehat 5 sempurna. Misalnya saja: nasi, sayur sop, ayam krispi, air mineral, buah dan berbagai cemilan sehat ditambah susu. Yang bertugas menyiapkan makanannya adalah komite yang dibantu oleh wali murid.

Kebetulan, bulan ini acara makan sehat diambil alih oleh para guru. Jadi semua-muanya yang menyiapkan bukan komite tapi para guru.

Ceritanya,para guru mau bikin tema yang lain dari biasanya. Alhasil mereka menyulap pelataran sekolah menyerupai cafe. Namanya "Cafe Cordova" dengan tema 'Mampir yuk ke cafe kami', hihi.. Selain itu, pelataran juga dihias dengan kertas krep dan origami. Keren lah pokoknya.  Kreatif banget guru-gurunya,TOP deh. 


Kamis, 15 Maret 2018

Rindu yang Sempurna #10 : Sempurna Olehmu

Aku benar-benar terperangah. Telapak tangan kukepal. Ada kecewa mengalir yang membuat seluruh sendi tubuhku menjadi patah. Ada duka yang teramat dalam. Gelap. Seperti menyelam di samudera pasifik dan hilang tertelan palung Mariana. Jauh. Lenyap ke dasar bumi.

"Renata.. bisa saya lanjutkan ceritanya?" tanya Kak Zaki dengan sangat hati-hati.

Aku mengangguk. Pandanganku kosong ke depan. Kak Zaki menggeret kursi lalu duduk berhadapan denganku.

"Almarhumah istrinya Farki namanya Vannya,mereka menikah setahun setelah lulus S1. Keduanya lulusan kimia UI sini, Re.." Kak Zaki mengatur napasnya. Lagi, ia mengusap ekor matanya. Mungkin ada air mata yang siap menetes.

"Pernikahan mereka hanya berusia satu tahun. Keluarga Vannya mengalami kecelakaan travel saat sedang pulang kampung di Bromo. Vannya meninggal dalam keadaan hamil 4 bulan. Adiknya yang sedang hamil 2 bulan selamat, tapi suaminya meninggal. Ibunyapun demikian,meninggal di tempat..." Kak Zaki menyatukan kedua telapak tangannya,menutup wajahnya. Kemudian menggerakkan pergelangan tangannya hingga telunjuk menyentuh ujung mata,lalu turun ke pangkal hidung.

"Farki sedang di Depok saat kecelakaan itu. Dia sedang mengurus S2nya. Kamu pasti tahu gimana perasaan Farki saat itu kan Re...? Farki sayang banget sama Vannya. Hidupnya hancur mulai saat itu, Re.."

Rabu, 14 Maret 2018

Rindu yang Sempurna #9 : Wajah yang Mirip

Allah... Bolehkah aku menangis sekarang juga? Kuatkan aku Ya Allah. Kakiku lemas, tak mampu menopang tubuh. Dadaku  sesak, mataku berkunang-kunang. Pandanganku gelap. Aku terjatuh.
***

Mataku terasa berat. Perlahan kubuka mata. Tubuhku terbaring di suatu ruangan. Dimana ini? Dengan kedua tangan kutopang tubuhku untuk bangkit dan segera duduk.

"Renata..." Suara Kak Zaki mengagetkanku. Aku menoleh ke arah kiri tempat suara itu berasal. Ada Kak Zaki dan... Farki. Aku menarik napas. Mengapa ada dua orang laki-laki bersamaku. Sudah berapa lama aku disini dan ditemani mereka? Apa yang terjadi denganku.

"Kamu tadi pingsan, saya dan Farki yang membopongmu kesini atas suruhan Bu Dendi. Iya, jadi pas kamu pingsan tadi, pas banget ada Bu Dendi. Ini ruangan Bu Dendi, kamu udah tahu kan? Oiya, jangan salah paham, kami juga baru datang kok, tadi yang menemani kamu selama pingsan ada Zahra dan Amel,mereka teman saya juga. Jadi bukan kami yang nungguin kamu disini..!" Kak Zaki menjelaskan pelan-pelan secara detail. Mungkin khawatir kalau aku marah atau berpikir yang macam-macam.

"Kamu sudah enakan Re?" Kak Zaki bangkit dari duduknya, melangkah ke meja yang berada di depanku. "Diminum dulu," Lalu menyodorkan sebotol air mineral kepadaku yang sudah dibuka ditutupnya.

Aku menerima dan meneguknya.

Selasa, 13 Maret 2018

Rindu yang Sempurna #8 : Dia itu Farki

Aku harus segera bertindak. Okeyh! Dengan cepat aku kembali berdiri kemudian bergegas berlari mengejar Kak Zaki. Kulirik jam tangan, sudah pukul 07.58. Biarlah kali ini aku terlambat masuk kelas dan berharap semoga Bu Dendi juga terlambat masuk ke kelasku.

Aku terus berlari kecil mengejar Kak Zaki. Walau ku tahu, langkahku terhalang oleh rok. Dan... hyaampuunn ikatan tali sepatuku lepas. Mengapa disaat situasi genting seperti ini tali sepatu tidak bisa diajak kompromi. Oke baik, anggap tidak ada masalah dengan sepatu.

Masih dengan napas ngos-ngosan, aku mencoba memanggil Kak Zaki dari jarak 6 meter.

"Kak.. Kak Zaki, tunggu..!" aku memanggilnya tanpa rasa malu. Tak peduli dengan orang sekitar yang langsung menengok ke arahku. Ta... tapi... Aaargghh ada laki-laki berkacamata yang menjengkelkan itu. Dia melihat kearahku. Sumpah, rasanya pengen kututupi muka pakai toren.