Allah... Bolehkah aku menangis sekarang juga? Kuatkan aku Ya Allah. Kakiku lemas, tak mampu menopang tubuh. Dadaku sesak, mataku berkunang-kunang. Pandanganku gelap. Aku terjatuh.
***
Mataku terasa berat. Perlahan kubuka mata. Tubuhku terbaring di suatu ruangan. Dimana ini? Dengan kedua tangan kutopang tubuhku untuk bangkit dan segera duduk.
"Renata..." Suara Kak Zaki mengagetkanku. Aku menoleh ke arah kiri tempat suara itu berasal. Ada Kak Zaki dan... Farki. Aku menarik napas. Mengapa ada dua orang laki-laki bersamaku. Sudah berapa lama aku disini dan ditemani mereka? Apa yang terjadi denganku.
"Kamu tadi pingsan, saya dan Farki yang membopongmu kesini atas suruhan Bu Dendi. Iya, jadi pas kamu pingsan tadi, pas banget ada Bu Dendi. Ini ruangan Bu Dendi, kamu udah tahu kan? Oiya, jangan salah paham, kami juga baru datang kok, tadi yang menemani kamu selama pingsan ada Zahra dan Amel,mereka teman saya juga. Jadi bukan kami yang nungguin kamu disini..!" Kak Zaki menjelaskan pelan-pelan secara detail. Mungkin khawatir kalau aku marah atau berpikir yang macam-macam.
"Kamu sudah enakan Re?" Kak Zaki bangkit dari duduknya, melangkah ke meja yang berada di depanku. "Diminum dulu," Lalu menyodorkan sebotol air mineral kepadaku yang sudah dibuka ditutupnya.
Aku menerima dan meneguknya.