Tampilkan postingan dengan label Nonfiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nonfiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 April 2018

Jilbab Pocong : Mau Coba?

Tren hijab terus berkembang. Perkembangan itu tidak lepas dari tangan kreatif para desainer untuk menciptakan sesuatu yang baru. Di awal bulan April ini, ada satu model hijab yang sedang ramai diperbincangkan, yakni jilbab pocong. Sebagaimana bentuk pocong yang simpulnya berada di atas kepala, jilbab ini juga membentuk simpul atau ikatan tepat di ubun-ubun atau atas kepala.

Adalah Azzim Aziz, seorang perancang busana dari Malaysia yang memperkenalkan jilbab pocong di akun instagramnya. Dia mengunggah 9 contoh aneka bentuk dan warna jilbab pocong yang diperagakan oleh seorang model. Menurut dirinya, model hijab pocong  akan laris dan menjadi trend saat Iedul Fitri mendatang.

Awalnya saya tidak terlalu peduli dan tidak mau tahu saat beberapa teman berkomentar heboh soal model hijab ini. Hingga suatu malam, ada teman yang mengirimkan gambarnya ke salah satu grup WhatsApp komunitas. Penasaran, saya langsung mengunduhnya.

Gambar diambil dari instagram milik Azzim Aziz

Sabtu, 14 April 2018

Menulis adalah Kebutuhan

“Cantik, coba deh bikin blog!” Usul suami di suatu malam, 7 tahun yang lalu. 

Suami saya tahu kalau istrinya ini doyan nulis. Segala yang terjadi mulai dari kegiatan sehari-hari, cerita unik yang seru, sampai kegiatan piknik pun semua ditulis menjadi status di Fb. Agak alay nampaknya. Tapi sungguh, bukan bermaksud pamer atau riya’, hanya ingin berbagi pengalaman saja.

Karena semenjak saya menikah dan ikut merantau bersama suami ke pulau seberang, saya merasa sendiri dan kesepian saat ditinggal suami bekerja. Apalagi saat itu tidak ada tv di rumah, gawaipun belum android, hanya laptop milik suami yang menemani sehari-hari.

“Tulisan Cantik jadi tersimpan lebih rapih kalau di blog. Enggak tercampur baur dengan foto yang di tag orang atau status-status pendek lainnya. Cantik juga pasti  lebih luwes menulisnya..” Lanjut beliau.

Dari situlah kemudian saya tertarik dengan usulan beliau. Akhirnya saya mencari tahu bagaimana cara bikin blog, mendekorasi, dan menatanya sesuai keinginan. Bermodalkan laptop jadul milik suami dan sebuah modem kartu pasca bayar, saya memulai bikin blog gratisan. Saya mulai menikmati hari-hari dengan utak atik blog dan menulis apa saja yang ingin saya tulis,meskipun isinya curcolan yang konyol.

Jumat, 06 April 2018

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia menurut KBBI adalah suatu keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan).

Bahagia adalah milik semua yang bernyawa. Tanpa terkecuali. Manusia, hewan dan tumbuhan, semuanya memiliki hak untuk bahagia.

Sering kali kita mendengar bahwa 'Bahagia itu sederhana'. Memang benar, karena buat saya yang seorang emak, kebahagiaan itu bisa didapat dari hal-hal sepele. Mau tau? Berikut yang bisa membuat saya bahagia selain me time ya tentunya. Yuk yuk, dibaca sampai tuntas ya.

Kamis, 05 April 2018

Manfaat Bersepeda Bagi Anak-anak


"Bunda... Akhtar main sepeda, ya!"

Begitulah Akhtar, setiap hari sabtu dan minggu pagi saat tidak ada agenda, ia selalu bermain sepeda bersama teman-temannya.

Tidak hanya saat weekend saja, senin hingga jumat pada sore harinya, Akhtar berangkat TPA juga dengan bersepeda.

Nah, kali ini saya akan mencoba menuliskan beberapa manfaat bersepeda bagi anak-anak. Saya akan fokuskan untuk usia dibawah 10 tahun saja ya. Berikut manfaatnya:

1. Belajar tentang kepemilikan barang
Dulu, saya membelikan sepeda roda dua untuk Akhtar tidak serta merta begitu saja. Akhtar menabung selama satu tahun lamanya. Walaupun pada dasarnya uang yang dimasukan kedalam celengannya uang dari saya juga, tapi setidaknya mengajarkan menabung untuk membeli sesuatu yang diinginkan otu penting sekali. Anak akan belajar bahwa ia harus berusaha terlebih dahulu untuk memiliki sesuatu. Ia pun akan lebih menghargai sepeda miliknya.

Rabu, 04 April 2018

Dari Bobo



Sejak kapan saya suka menulis? Jawabannya adalah : sejak saya bisa menulis.

Entah dari mana ketertarikan dalam dunia literasi muncul pada diri saya, sedangkan kedua orangtua bukan seorang ahli sastra ataupun yang berkecimpung di dunia jurnalistik. Tidak. Mereka juga tak pernah memasukan saya pada kursus-kursus yang berhubungan dengan dunia kebahasa Indonesiaan. Pun saya tidak pernah diikut sertakan dalam lomba-lomba karya tulis, puisi dan sejenisnya.

Orangtua saya, hanya sekedar tahu kalau anaknya senang menulis. Maka, orangtua saya, khususnya papa, berlangganan majalah bobo untuk saya. Beliau juga rajin membelikan kertas folio agar saya bisa menulis cerpen, puisi atau apa saja di kertas tersebut menggunakan bolpoint. Maklum, kami keluarga sederhana. Mesin tik pada zaman itu tergolong barang mewah, tidak ada di rumah saya.

Dari berlangganan bobo itulah hasrat mengirim tulisan mulai bergemuruh. Dengan selembar kertas dan bolpoint, saya mencoba mengirim tulisan ke rubrik cerpen dan tak disangka. Hasilnya, tulisan saya dimuat. Berbagai hadiah mulai saya terima. Dari sebuah tas, tiket gratis nonton bioskop, souvenir-souvenir bobo bahkan uang ratusan ribu rupiah. Zaman SD, uang ratusan ribu itu sudah sangat UWOW sekali buat saya. Sampai sekarang juga kok.

Senin, 02 April 2018

Aku

Hari ini saya akan menulis tentang "AKU". A-K-U. Tulisan kali ini untuk mengerjakan tantangan yang diberikan pada kelas nonfiksi. Jujur, saya bingung mau menulis apa tentang AKU, karena sudah sering kali saya menulis dengan tema yang sama. Dari zaman old hingga zaman now sudah pernah saya luapkan di blog ini. Tapi demi sebuah tantangan, catet ya.. tan-ta-ngan. saya akan berusaha 'curcol' kembali mengenai AKU. Mungkin beda versi. Hihi.

Saya adalah anak kedua dari dua saudara kandung dan tiga saudara tiri. Penjelasan mengapa saya memiliki saudara tiri kalau ditulis bisa jadi satu buku novel dengan sekian ratus halaman. Serius lho, sama sekali enggak lebay, karena ceritanya  menguras airmata dan mempermainkan emosional. Percaya kan? Percaya aja deh ya biar saya senang. Hmmm.. Mungkin ada yang mau jadi sponsor kalau cerita saya dibikin novel? Haha.. Abaikan.

Lanjut ya, saya lahir di Jakarta 29 tahun yang lalu di rumah sakit Harapan Kita pada jam 4 sore. Masih muda belia kan? Iyain aja ya.

Minggu, 01 April 2018

Nonfiksi Pilihan Saya

Pilihan yang cukup sulit ketika harus menentukan kelas lanjutan fiksi ataukah nonfiksi pada ODOP batch 5. Mengapa sulit? Karena memang kemampuan saya masih amat sangat terbatas dikeduanya. Menulis fiksi yaa begitulah, menulis nonfiksi juga ehmm kurang greget. Memang serba salah kalau penulis amatiran seperti saya dihadapkan oleh dua pilihan yang masih ikut-ikutan.

Awalnya saya memantapkan hati untuk bergabung di kelas fiksi. Karena jujur, ketika tidak ada ide untuk membuat tulisan, biasanya saya akan menulis puisi. Menulis puisi bagi saya tidak perlu membutuhkan waktu lama, hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit sudah bisa di publish. Selesai. Postingan tercukupi. Aman.

Pun ketika saya tergiur kelas fiksi dapat menelurkan karya sebuah buku. Bersama-sama berimajinasi dalam sebuah cerita. Keren banget pastinya. Ga kepengen? Ya pengen lah...