Aku dan Lala masuk ke ruang kelas dalam keadaan ngos-ngosan. Belum sempat mengatur napas, Pak Rozak sudah hadir dan siap menyampaikan materi. Duh! mana bisa aku konsentrasi dalam keadaan napas tak karuan begini. Apalagi aku tak suka dengan mata kuliah kimia organik. Kenapa? Aku paling eror kalau disuruh membuat rantai karbon.
Entahlah, rasanya otakku lelah berhadapan dengan rumus-rumus kimia. Ya ya ya, aku tahu kalau jurusan yang kuambil ini adalah jurusan kimia. Sekali lagi K.I.M.I.A. Seharusnya sudah menjadi makanan sehari-hari itu rantai -C-. Tapi sekali lagi aku katakan, aku sedikit sutris dimata kuliah ini apalagi dosennya killer. Dapet B saja sudah alhamdulillaah buatku. Hhhh.
"Renata! Silahkan maju!" duaarrrr!!! Pak Rozak memanggilku dari tempat duduknya. Suaranya bagaikan guntur yang membuat seisi ruangan bergetar.
Hapah?! Aku? A... Aku disuruh maju? Oemji! dedemit apa lagi yang sedang merasuki pak Rozak. Aku menahan napas, menengok sebelah kiri ke arah Lala. Lala malah cengar cengir seraya menutup mulutnya dengan kerudung. Ku tengok ke arah kanan belakang agak serong, ada Kenny si gadis dengan IPK selalu cumlaude. Kenny mengisyaratkan dengan dagunya, agar aku segera maju.